Prosiding / 2014BDP / pRI-11

(Macrobrachium rosenbergii) YANG DIPELIHARA SECARA MONO-SEX DAN MIXED-SEX  PADA TAHAP PEMBESARAN

Fajar Anggraeni* dan Asep Sopian

Balai Penelitian Pemuliaan Ikan

Perkembangan budidaya udang galah di Indonesia kurang begitu pesat dibandingkan dengan udang lainnya seperti udang windu dan udang vaname yang sudah sangat komersial. Meskipun dari segi harga udang galah cukup stabil, namun minat masyarakat ataupun swasta masih sangat kurang. Salah satu kendala yang menyebabkan kurangnya minat masyarakat dalam budidayanya adalah rendahnya padat tebar udang galah pada saat produksi di pembesaran, yaitu hanya 10-20 ekor/ m2, jika dibandingkan dengan udang windu (30 ekor/m2) dan udang vaname (100 ekor/m2). Selain itu, pada saat panen ketidakseragaman ukuran serta betina yang matang gonad dini juga menjadi kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa udang galah yang dipelihara secara pisah kelamin (mono-sex) dan campur kelamin (mixed-sex) baik dari pertumbuhan maupun morfotipenya. Perbandingan performa pertumbuhan udang galah pada tahap pembesaran dilakukan di kolam beton ukuran 10 m2 yang dipelihara secara mono-sex yaitu jantan dan betina dipelihara secara terpisah dan mixed-sex yaitu jantan dan betina dipelihara secara bersamaan. Padat tebar yang digunakan adalah 10 ekor/m2. Benih yang digunakan adalah ukuran panjang total ± 80 mm. Udang galah dipelihara selama 3 bulan pembesaran dengan persentase pemberian pakan 15% menurun dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan kelangsungan hidup betina mono-sex sebesar 91%, jantan monosex 84% dan mixed-sex 81%. Udang galah yang dipelihara secara monosex mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan yang dipelihara secara mixed-sex serta matang gonad dini dapat dihindari dengan pemeliharaan betina mono-sex.

Kata kunci : mono-sex, mixed-sex, morfotipe, pembesaran, udang galah